Pancasari Bali Banjir Parah, Dampak Lahan Yang Terus Tergerus

Pancasari Bali Banjir Parah, Dampak Lahan Yang Terus Tergerus

Pancasari Bali Banjir Parah, Dampak Lahan Yang Terus Tergerus Akibat Curah Hujan Tinggi Dan Beberapa Wilayah Terendam. Banjir parah yang melanda Desa Pancasari, Kabupaten Buleleng, Bali. Maka hal ini yang menjadi peringatan serius tentang rapuhnya keseimbangan alam ketika tata ruang di abaikan. Dan wilayah yang di kenal sebagai kawasan dataran tinggi dan penyangga ekosistem Danau Buyan. Serta dengan Tamblingan ini seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan air. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan fungsi lahan terus tergerus oleh aktivitas manusia. Alih fungsi lahan yang tidak sesuai peruntukan telah mengubah wajah Pancasari Bali secara perlahan. Dan area yang semestinya hijau kini di padati bangunan, pertanian intensif. Dan pembukaan lahan tanpa pengendalian drainase. Saat hujan deras datang, kawasan ini tak lagi mampu menahan limpasan air. Sehingga banjir menjadi peristiwa yang semakin sering dan parah. Berikut fakta-fakta yang terjadi akibat pelanggaran tata ruang dan perubahan fungsi lahan di Pancasari Bali.

Kawasan Resapan Air Menyusut Drastis

Fakta pertama yang paling terasa adalah berkurangnya kawasan resapan air. Dan daerah ini berada di wilayah hulu yang memiliki peran penting dalam menyerap dan menahan air hujan. Namun, alih fungsi lahan menjadi pertanian skala besar, vila. Serta bangunan pendukung pariwisata membuat permukaan tanah semakin tertutup. Tanah yang tertutup beton dan lapisan keras tidak lagi mampu menyerap air secara optimal. Akibatnya, air hujan langsung mengalir di permukaan. Dan terkumpul di titik-titik rendah. Kondisi ini menjelaskan mengapa genangan cepat terbentuk meski hujan tidak berlangsung terlalu lama.

Sistem Drainase Alam Rusak Dan Terputus

Perubahan fungsi lahan juga berdampak pada rusaknya sistem drainase alami. Sungai kecil, saluran air tradisional, dan jalur aliran alami banyak yang tertutup. Atau yang di alihkan tanpa perencanaan matang. Beberapa bahkan menyempit akibat pembangunan di sempadan sungai. Ketika aliran air kehilangan jalurnya, tekanan air meningkat dan meluap ke area permukiman. Fakta ini menunjukkan bahwa musibah ini bukan semata-mata akibat cuaca ekstrem. Namun melainkan hasil dari akumulasi pelanggaran tata ruang yang di biarkan bertahun-tahun.

Erosi Dan Sedimentasi Semakin Parah

Alih fungsi lahan di kawasan dataran tinggi seperti wilayah ini juga memicu erosi. Pembukaan lahan tanpa konservasi tanah membuat lapisan tanah atas mudah tergerus saat hujan. Material tanah kemudian terbawa ke saluran air dan sungai. Kemudian juga menyebabkan sedimentasi. Pendangkalan saluran air akibat sedimen mengurangi kapasitas tampung air. Akibatnya, air lebih mudah meluap dan memperparah banjir. Fakta ini sering luput dari perhatian karena dampaknya tidak langsung terlihat. Akan tetapi berkontribusi besar terhadap kerusakan lingkungan jangka panjang.

Aktivitas Ekonomi Tumbuh, Risiko Bencana Ikut Meningkat

Pertumbuhan ekonomi lokal memang membawa manfaat bagi sebagian warga. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pembangunan yang tidak sesuai tata ruang justru meningkatkan risiko bencana. Lahan yang semestinya di lindungi berubah fungsi demi keuntungan jangka pendek. Banjir parah yang terjadi berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat. Lahan pertanian rusak, akses jalan terputus, dan biaya pemulihan meningkat. Ironisnya, keuntungan dari alih fungsi lahan seringkali tidak sebanding.

Tentunya dengan kerugian yang harus di tanggung saat bencana datang. Masalah ini menjadi alarm keras bahwa tata ruang bukan sekadar dokumen administratif. Ketika fungsi lahan terus di langgar. Maka alam akan merespons dengan cara yang tidak bisa di tawar. Wilayah hulu seperti wilayah ini seharusnya di jaga sebagai benteng ekologis. Namun bukan di korbankan demi pembangunan tanpa kendali. Jika pelanggaran tata ruang terus di biarkan, banjir bukan lagi kejadian luar biasa. Akan tetapi rutinitas tahunan. Menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan menjadi satu-satunya jalan. Tentunya agar wilayah ini dan kawasan lainnya tidak terus tenggelam oleh dampak lahan yang tergerus.

Jadi pada intinya masalah ini terjadi karena adanya pelanggaran tata ruang dan fungsi lahan yang mengakibatkan banjir parah di Pancasari Bali.